Ada yang membuat saya tersenyum ketika ingat pengalaman masa lalu saat berpacaran, waktu itu saya bekerja pada suatu proyek terowongan di daerah pegunungan sebagai pengawas. Jarak dari proyek ke jalan raya saja sekitar 15 Km naik ojek lewat pesawahan dan jalan kampung dari bebatuan dan tanah, kemudian naik Bus Antar Kota Antar Propinsi dengan menempuh jarak kl. 55 Km untuk menemui sang Pacar.
Anehnya, meskipun waktu sudah siang hari, jaraknya jauh dan banyak hambatan yang dilalui, setiap akhir pekan selalu berusaha untuk berkunjung ke rumah sang pacar walaupun hanya menyisakan waktu setengah jam dalam kunjungan, bahkan tidak terasa lelah meskipun harus bolak-balik perjalanan. Bahkan dalam satu pekan dua kali berkunjung pun tidak masalah.
Ini menunjukan bahwa ada “energi” yang luar biasa pada diri manusia ketika bathinnya tersentuh oleh suatu kondisi yang mampu menggugah “daya kemauan”. Daya kemauan yang dapat memberikan semangat untuk mencapainya.
Seorang kuli bangunan bercerita ketika mendapat khabar istrinya melahirkan . Tanpa uang sepeserpun karena kecopetan di Terminal pada waktu akan pulang, Dia sanggup berjalan kaki dari Jakarta ke Bandung tanpa istrirahat hanya berbekal sebotol air mineral dalam tas.
Contoh ini juga menunjukan bahwa manusia mempunyai daya tahan tubuh yang luar biasa manakala keadaan memaksa serta didorong oleh daya kemauan. Kemauan yang keras akan menimbulkan tenaga yang berlipat.
Mengapa hal-hal yang luar biasa tersebut mampu dilakukan oleh manusia? Jawabnya adalah karena daya kemauan tersebut. Kita dapat memanfaatkan energi-energi ekstra tersebut setiap saat untuk hal-hal yang lebih positif. Kita bisa melatih dan berusaha dalam mendayagunakannya untuk melakukan perubahan dalam kehidupan.
Kadang-kadang terdapat usaha mempertahankan diri yang akan melawan kemauan karena ketidakmampuan atau karena kurangnya kecerdasan akademis (IQ), tetapi apabila terus mencoba, selalu yakin, dan berusaha berubah untuk mencapai tujuan tersebut, kita akan menemukan beberapa kemungkinan yang dapat mengubah ketidakmampuan dan juga mendapatkan hasil dari perubahan tersebut.
Bahkan menurut sebuah penelitian, IQ menyumbang paling banyak 20 % bagi kesuksesan hidup seseorang, sementara 80 % nya lagi ditentukan oleh kecerdasan emosi.
Memang tidak sedikit orang yang gagal dalam mencapai apa yang diinginkan. Masalahnya adalah karena tidak yakin akan diri sendiri, tidak yakin bahwa dirinya mampu melakukannya, kurang gigih dalam mencoba mendapatkannya. Mereka mungkin telah menetapkan tujuan namun hanya setengah hati dalam berusaha mencapainya, sehingga hasilnyapun akan setengah-setengah atau mungkin tidak menghasilkan sama sekali.
Sebaliknya, orang yang mempunyai tujuan yang jelas dan tetap berpegang teguh menjalaninya, ia sanggup melewati segala macam hambatan.
Kunci dari semua itu adalah apabila kita mempunyai kemauan yang kuat dan mengenali kekuatan dalam diri sendiri, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan dan mampu mengalahkan segala rintangan yang menghalangi.
Amiiin…..
Sabtu, 03 Oktober 2009
Minggu, 23 Agustus 2009
ENERGI CINTA
Cinta mempunyai banyak arti. Bagi sebagian orang cinta adalah sumber inspirasi, sumber imajinasi, bahkan sumber energi untuk mencapai mimpi.
Dengan cinta hidup terasa nikmat. Dengan cinta hidup punya semangat. Cinta akan membuat kita bahagia. Cinta harus selalu ada dan tumbuh dalam menjalani kehidupan. Mbah Surip meski usiannya sudah kepala enam, tapi masih terus bersemangat dalam menghasilkan karyanya. Kita tidak akan ragu mengatakan bahwa dia menikmati dunianya, dia bekerja dengan cinta.
Kalo ke Bandung, keluar pintu tol Pasteur mau masuk ke Bandara Husein, setiap pagi depan Pos Penjagaan, kita bisa melihat seorang pensiunan yang selalu mengatur kendaraan yang keluar masuk melewati Markas Angkatan Udara, Bahkan setelah penjaga pintu sudah masuk pos penjagaannya . Karena kecintaannya terhadap tempat asal ia bekerja, dia tak mengharap/ menerima tips dari setiap kendaraan yang keluar masuk tersebut.
Atau supporter sepakbola (Bobotoh Persib) yang beramai-ramai akan mengumpulkan uang sumbangannya ketika tim kesayangannya tidak mampu ikut kompetisi karena kekurangan biaya.
Cinta memang bisa datang dari mana saja, tidak mengenal latar belakang, pendidikan, usia. Cinta datang dari rasa dan hati. Jadi yang paling memahami cinta adalah orang yang menjalani. Kalau mereka punya cinta seperti itu, bagaimana dengan kita ? Seberapa besar kita mencintai pekerjaan, profesi, atau usaha yang kita geluti ? Apakah kita hanya mencitai terhadap gajinya saja, untungnya saja, atau hanya sebagai antara sampai kita menemukan pekerjaan yang betul-betul cocok dengan hobi ?
Tidak perlu diadakan riset untuk hal itu. Kita cukup melihat bagaimana cara kita dalam melakukan pekerjaan kita sehari-hari.
Kalau seorang dokter ketika menerima pasien yang tak mampu (miskin) kurang begitu responsif, bahkan membeberkan dulu biaya yang harus dikeluarkan sebelum menangani pasien tersebut, berarti dia kurang mencintai profesinya.
Kalau Pegawai Negeri Sipil dengan seragamnya berkeliaran di Mall pada waktu jam kerja, berarti dia tidak mencintai pekerjaannya.
Kalau seorang pedagang ketika ada pelanggan yang menanyakan harga barang dagangannya pada waktu sedang ramai pengunjung ke tokonya tapi dia menjawab dengan ketus tanpa menoleh pelanggan tersebut, berarti dia tidak menikmati dan mencintai usahanya.
Dari sini kita bisa menilai sejauhmana kita mencintai pekerjaan tersebut.
Sebenarnya cinta itu bisa ditumbuhkan asalkan kita mampu menjalankan pekerjaan itu dengan hati yang ikhlas. Terbiasa dengan ikhlas akan menumbuhkan cinta. Ikhlas dalam menerima pekerjaan yang ditugaskan oleh atasan, ikhlas dalam melayani konsumen, ikhlas dalam menolong , ikhlas dalam menjalankan usaha.
Setiap pekerjaan yang didasarkan dengan keikhlasan adalah cermin dari pekerjaan yang dijalankan dengan cinta. Ketika cinta sudah melekat, maka akan ada kebahagian. Seberat apapun pekerjaan akan terasa ringan apabila dilandasi dengan cinta. Secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pekerjaan, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan insya Allah kemampuan berkarya dan berprestasi akan melejit, potensi diri akan berkembang. Disadari atau tidak, kita akan takjub melihat kemampuan yang berlipat ganda dari upaya mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupan ini. Tentu saja hal ini akan membuat hidup kita jauh lebih mudah dan indah.
Ya ….. , cinta memang anugrah! Tapi cinta juga dapat diunggah ????
Dengan cinta hidup terasa nikmat. Dengan cinta hidup punya semangat. Cinta akan membuat kita bahagia. Cinta harus selalu ada dan tumbuh dalam menjalani kehidupan. Mbah Surip meski usiannya sudah kepala enam, tapi masih terus bersemangat dalam menghasilkan karyanya. Kita tidak akan ragu mengatakan bahwa dia menikmati dunianya, dia bekerja dengan cinta.
Kalo ke Bandung, keluar pintu tol Pasteur mau masuk ke Bandara Husein, setiap pagi depan Pos Penjagaan, kita bisa melihat seorang pensiunan yang selalu mengatur kendaraan yang keluar masuk melewati Markas Angkatan Udara, Bahkan setelah penjaga pintu sudah masuk pos penjagaannya . Karena kecintaannya terhadap tempat asal ia bekerja, dia tak mengharap/ menerima tips dari setiap kendaraan yang keluar masuk tersebut.
Atau supporter sepakbola (Bobotoh Persib) yang beramai-ramai akan mengumpulkan uang sumbangannya ketika tim kesayangannya tidak mampu ikut kompetisi karena kekurangan biaya.
Cinta memang bisa datang dari mana saja, tidak mengenal latar belakang, pendidikan, usia. Cinta datang dari rasa dan hati. Jadi yang paling memahami cinta adalah orang yang menjalani. Kalau mereka punya cinta seperti itu, bagaimana dengan kita ? Seberapa besar kita mencintai pekerjaan, profesi, atau usaha yang kita geluti ? Apakah kita hanya mencitai terhadap gajinya saja, untungnya saja, atau hanya sebagai antara sampai kita menemukan pekerjaan yang betul-betul cocok dengan hobi ?
Tidak perlu diadakan riset untuk hal itu. Kita cukup melihat bagaimana cara kita dalam melakukan pekerjaan kita sehari-hari.
Kalau seorang dokter ketika menerima pasien yang tak mampu (miskin) kurang begitu responsif, bahkan membeberkan dulu biaya yang harus dikeluarkan sebelum menangani pasien tersebut, berarti dia kurang mencintai profesinya.
Kalau Pegawai Negeri Sipil dengan seragamnya berkeliaran di Mall pada waktu jam kerja, berarti dia tidak mencintai pekerjaannya.
Kalau seorang pedagang ketika ada pelanggan yang menanyakan harga barang dagangannya pada waktu sedang ramai pengunjung ke tokonya tapi dia menjawab dengan ketus tanpa menoleh pelanggan tersebut, berarti dia tidak menikmati dan mencintai usahanya.
Dari sini kita bisa menilai sejauhmana kita mencintai pekerjaan tersebut.
Sebenarnya cinta itu bisa ditumbuhkan asalkan kita mampu menjalankan pekerjaan itu dengan hati yang ikhlas. Terbiasa dengan ikhlas akan menumbuhkan cinta. Ikhlas dalam menerima pekerjaan yang ditugaskan oleh atasan, ikhlas dalam melayani konsumen, ikhlas dalam menolong , ikhlas dalam menjalankan usaha.
Setiap pekerjaan yang didasarkan dengan keikhlasan adalah cermin dari pekerjaan yang dijalankan dengan cinta. Ketika cinta sudah melekat, maka akan ada kebahagian. Seberat apapun pekerjaan akan terasa ringan apabila dilandasi dengan cinta. Secara tidak langsung akan mempengaruhi kualitas pekerjaan, selalu berusaha melakukan yang terbaik dan insya Allah kemampuan berkarya dan berprestasi akan melejit, potensi diri akan berkembang. Disadari atau tidak, kita akan takjub melihat kemampuan yang berlipat ganda dari upaya mempersembahkan yang terbaik dalam kehidupan ini. Tentu saja hal ini akan membuat hidup kita jauh lebih mudah dan indah.
Ya ….. , cinta memang anugrah! Tapi cinta juga dapat diunggah ????
Langganan:
Postingan (Atom)